Sabtu, 08 Maret 2014

Pertumbuhan Gereja adalah Pekerjaan Allah

 Di Ambil dari Buku: Teologi Pertumbuhan Gereja (bab 4) – George W. Pitters

           Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Gereja adalah jemaat Allah. Oleh karena Gereja merupkaan jemaat Allah, maka pertumbuhan gereja baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif aadalah karya Allah. Tuhan untuk pertama kalinya dengan tegas menyebutkan dalam Perjanjian Baru: Matius 16:18 dengan penuh wibawa menyatakan, “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu” dapat di katakana sebagai pemberitaan yang pertama rencana mulian Allah untuk mendirikan gereja seperti yang dimanisfestasikan dalam gereja Kristus. Ada empat unsur dikemukakan secara jelas dalam rencana mulia pada Matius 16:18 ini, yaitu:

   1. Dasar Gereja: Yesus Kristus sendiri, batu karang yang itu, adalah dasar dan batu penjuru utama (Yes. 28:16; bdg. 1 Kor. 3:11; Ef. 2:20, 1 Petrus 2:6-8).

      2. Pendiri Gereja: Yesus Kristus sendiri adalah pendirinya.

      3. Seteru Gereja: Alam (gerbang) maut memusuhinya.

      4. Ketahanan Gereja: Gereja akan bertahan dan menang.

    Jadi, sejak permulaan dari gereja, Tuhan menekankan bahwa pertumbuhan gereja adalah pekerjaan dari Allah. Di akhir Injilnya, Markus memberitahukan kepada kita bahwa para rasul “Pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja, dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mark. 16:20). Bahkan lebih jelas dan tegas dari keyakinan Paulus, bahwa adalah pekerjaan Allah. Paulus menulis; “aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan” (1 Kor. 3:6-7). Pekerjaan Allah Trinitas dalam Pertumbuhan GerejaWalaupun Alkitab tidak menguraikan dengan perkataan yang jelas mengenai pembagian tugas dari Trinitas, namun pengaturan seperti itu tersirat dalam ucapa-ucapa dari Tuhan dalam Yoh. 14-15.  Dari Alkitab dapat disimpulkan adanya tatanan dan hubungan tertentu mengenai pekerjaan dari Allah Trinitas (Yoh. 5:30, 7:16; 8:28-29; 10:37-38).

        Trinitas menyusun rencana penyelamatan, Bapa yang menjanjikannya, Anak yang mendapat janji itu, dan Roh Kudus yang melaksankannya. Walaupun tampaknya pembagian seperti ini terkesan memaksa rencana manusia terhadapa misteri Ilahi, tetap dari Injil Pernyataan Injil Yohanes dan ucapan-ucapa Paulus dalam Efesus 1:3-14 tampak mendukung gambaran seperti ini (Yoh. 3:16-17, Mark. 10:45, 2 Kor. 5:18-21, Filipi 2:5-8; 1 Tim. 2:6-6, Yoh.2:1-2).Pada hari Pentakosta Roh Kudus dicurahkan secara tak terhingga oleh Bapa serta Anak, dan untuk tujuan khusus. Dia di utus kedunia ini sebagai parakletos “penolong” dari keAllahan (Yoh. 14:16, 26, 15:26; 16:7). Penolong adalah sebutan resmi Roh Kudus mengingat pekerjaan-pekerjaanNya sejak pentakosta. Dalam Alkitab salinan septuaginta, disebutkan sebagai penolong, Roh Kudus adalah wakil, pembela, pelaksana, yang mewujudkan – oknum atau pribadi dari keAllahan yang bertanggung jawab atas rencana dan misi Ilahi sepanjang zaman, dan menjadi administrator atas kepentingan-kepentingan dunia ini. 


Roh Kudus dan Potensi yang Tinggi

         Dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus hadir di antara manusia untuk maksud-maksud tertentu yang resmi – memilih orang-orang tertentu untuk fungsi-fungsi, berbagai tanggung jawab, dan tugas-tugas khusus – bukan dalam kapasitas resmi yang sepenuhnya sebagai parakletos, penolong, penghibur menurut pengertian dalam PB. Sejak Pentakosta ada pelayanan baru yang mendalam dari Roh Kudus. Griffith Thomas mengatakan Bahwa: “Perjanjian Baru semata dikaitkan dengan penebusan, sedangkan doktrin yang lebih luas dalam mengenai hubungan Allah terhadap dunia tercermin dalam Logos, Oknum kedua dari Trinitas (Yoh. 1:9; Kol. 1:16-17; Ibr. 1:2-3a).Sebagai penolong Dia mendirikan, menjaga dan memelihara, dan mengembangkan gereja serta akan membawa gereja pada tujuan yang kekal.

     Lalu bagaimana sikap kita terhadap Roh Kudus dalam kaitannya dengan umat manusia sejak Pentakosta? Menerima begitu saja, bahwa Roh Kudus melanjutkan pelayanan penyataan dan pengilhamanNya untuk melengkapi Perjanjian Baru. oleh karena pencurahan Roh Kudus pada pentakosta telah membuat zaman ini sebagai zaman Roh Kudus maka kita dapat mengharapakan intensifikasi (penguatan) pekerjaan Roh Kudus di dalam dunia secara keseluruhan.Roh Kudus bukan hanya mengantarkan kepada zaman penginjilan, tetapi secara meankjubkan menciptakan atmosfir (suasana) bagi penginjil di mana gereja bisa bekerja.


 Pekerjaan Roh Kudus dari sudut pandang:

    1. Penciptaan potensi Tinggi

     Tuhan memakai perumpamaan-perumpamaan, lambang-lambang, dan kiasan untuk menjelaskan keadaan-keadaan hidup secara realistis dan grafis. Dalam Alkitab ada banyak sekali gambaran tentang penuaian (Mat. 9:37) bahwa tuaian sudah matang (Yoh. 4:35). Salah satu bukti tentang orang2 percaya mereka menyebar keseluruh penjuru dunia (Kis. 8:1).
Ada 5 unsur dalam penuaian:     

           1. Benih yang tepat harus taburkan,
      2. Dibutuhkan orang untuk menabur benih,
      3. Perlu waktu untuk benih bertunas, bertumbuh dan masak;
      4. Musim-musim yang tepat juga penting;
      5. Perlu disiapkan orang dengan sabit untuk menuai.
Walaupun ada banyak ilmu yang dapat menyuntikan kesadaran, seperti psikologi sosiologi dan sejarah tetapi tidak bisa menciptakan kesadaran rohani kepada orang memaksa memahami kebutuhan-kebutuhan rohani dan mencari kesembuhan rohani, hanya Roh Kudus yang dapat menimbulkan kebangunan Rohani. Tidak bisa dibantah, terdapat lingkup misteri yang luas yang tidak bisa ditembus oleh akan manusia.


2.  Kejadian-kejadian sejarah dan potensi yang besar
    Tuhan memakai kejadian-keajadian sejarah dan pengalaman pribadi memainkan peranan penting untuk bagaiman manusia mengenalNya secara pribadi. Hal-hal demikian menciptakan masa-masa yang di mana Roh Kudus secara unik melipatgandakan kehadiran dan tindakanNya, kejadian-kejadian yang demikian menyediakan keadaan di mana Roh Kudus melepaskan kita dari keterikatan tradisi keagamaan, adat-istiadat yang selalu memperbudak mereka yang mengalaminya. Maka untuk kita diperlukan mentalitas penuaian.


 Roh Kudus dan Heilsgeschichte (Sejarah Penebusan/Keselamatan)   Alkitab tidak ragu mencatat, bahwa dalam beberapa hal Roh Kudus berhubungan dengan seluruh umat manusia (Kejadian 6:3; Ayub 32:8, 33:4, Maz. 139:6-7). Dia adalah Allah yang hadir di dunia dan berhubungan dengan seluruh sejarah. Apakah kehadiranNya mempengaruhi seluruh sejarah, Heilsgeschichte, atau sejarah keselamatan?


1. Heilsgeschichte dan sejarah pada umumnya
Secara global atau umum, Roh Kudus menjangkau semua bangsa dan membuat mereka turut melaksanakan sejarah, seperti yang terjadi pada orang-orang pilihan Allah yang memaiknkan peranan penting dalam sejarah sebagaimana halnya yang terjadi dengan Israel.


2. Heilsgeschichte dan Israel
Adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah , bahwa Israel adalah alat monoteisme etikal dunia ini. Israel juga memberikan perspektif sejarah yang lurus yang memberikan arti dan tujuan penting bagi alam semesta dan bagi sejarah. Allah telah datang kepada setiap orang melalui perjanjianNya dan memperkenalkan diri melaui ucapan-ucapanNya dan tindakan-tindakan kepada bangsa yang terpilih menurut keadualatanNya sendiri. Allah secara unik mengitervensi dalam sejarah umat manusia, Ia memanggil Abram dari Ur-Kasdim. Roh Kudus melalui penyataanNya telah memberikan kepada umat pilihanNya pilihan ini kebenaran-kebenara rohani dan agama yang spesifik, teladan-teladan, konsep-konsep, hukum-hukum, pranata-pranata yang tidak dikenal oleh manusia pada umumnya dan diproklamasikan kepada seluruh dunia.


3. Heilsgeschichte dan Gereja
Dengan pengilhaman Roh Kudus mereka melaporkan peristiwa-peristiwa penyelamatan dan mencatat kebenaran rohani dan kebenaran yang kekal yang tertinggi dan yang paling penting bagi umat manusia. Menurut Heilsgeschichte, Paulus merupakan salah satu tokoh yang paling gigih dalam hal pertumbuhan gereja. Surat Roma merupakan rangkuman yang paling penting mengenai fakta sejarah dan Heilsgeschichte, berikut garis besarnya

    1. Alams emesta adalah ciptaan Allah. Ia memanisfestasikan Allah, ada di bawah kedaulaytanNnya, dan ia bertanggung jawab kepadaNya (Roma 1:18-dst).
2. Seluruh manusia adalah organism yang diciptakan dalam Adam. Alkitab tidak mempersalahkan kesatuan organism dari seluruh umat manusia. Paulus berpegang teguh padanya dan membangun di atasnya (Roma 5:12-21).
3. Dalam Adam seluruh manusia jatuh ke dalam dosa dan menjadi rendah (5:12-21).
4. Seluruh umat manusia mengikuti jalan dosa, dan karenanya bersalah serta menjadi rusak dalam segala aspek kehidupan, khususnya dalam aspek keagaamaannya (Roma 1:18-3:23).
5. Untuk memberikan penyataan yang  benar mengenai diriNya dan jalan keselamatan, Allah berkarya melalui system dan bangsa, pranata yang sebenarnya antara Allah dan manusia, Yesus Kristus (Roma 9-11; 1 Tim.2:1-15).
6. Semua manusia terwakili melaui inkarnasi, kehidupan, kematian dan kebangkitanNya dan tersedia keselamatan (Roma 5:12-21).
7.  Hanya ada satu jalan keselamatan yaitu melalui iman kepada Yesus Kristus (Roma 3:21-5:21).
8.  Penyelamatan Allah mempunyai implikasi yang luar biasa terhadap individu-individu, gereja, masyarakat baik bsecara moral maupun secara kesejarahan (Roma 12-16). Penyelamatan membebaskan seluruhnya (Roma 8:19-23).
9.  Jalan keselamatan tidak ditemukan oleh individu-individu. Ia datang dengan penyataan, dan dari firman Allah ia harus dikomunikasikan. Iman terjadi melalui pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:8-17; 16:25-26).
10. Paulus menyadari dirinnya dipanggil oleh Allah dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah untuk menuntun semua orang agar percaya dan taat (Roma 1:1-5; 16:25-27). Itulah tugas kerasulan dan untuk itulah ia bekerja keras dan maju memasuki daerah penginjilan.
Jadi gereja – yakni kehadiran umat Allah atau Firman Allah adalah penting baik untuk menciptakan potensi besar maupun untuk menjadi pengantara keselamatan melalui pemberitaan Injil Tuhan kita Yesus Kristus.


      Roh Kudus dan Sejarah Dunia

          Alkitab memperhadapkan kita dengan fakta-fakta, bukan teori-teori dan filsafat. Tidak seperti yang dikatakan oleh pengamat keallahan, Allah tidak pernah menarik diri (melepaskan diri) dari ciptaanNya. Roh Kudus selalu hadir di tengah bangsa-bangsa melaui berkat-berkat yang disedikan alam, maupun melalui hukuman-hukuman terhadap bangsa.Alkitab tidak mengemukakan secara detail dari sejarah dunia atau pemaparan yang lengkap tetapi ia menyempurnakan prinsip-prinsip dan kerangka kerja;1. Tangan Allah selalu ada di atas peristiwa-peristiwa yang menimpa bangsa-banga;
2.  Dia adalah Raja di atas segala Raja dan Tuhan di atas segala Tuhan “Raja yang kekal” (Yeremia 10:10; 1 Tim. 1:17);
3.  Dia adalah Yang Maha Tinggi dari alam semesta, dan di dalam Dia ada kuasa dan otoritas tertinggi (Mat. 28:18; Maz.83:19; 103:20);
4.  Pemerintah-pemerintah dietapkan oleh Dia (Roma 13:1-7);
5.  Dia berkuasa mengangkat dan menurunkan mereka (Yer. 27:5; Daniel 4:25);
6.  Dia menetapkan masa-masa mereka dan batas-batas mereka (Ulangan 32:8; Luk. 21:24; Kis. 17:27).

\    Tuhan mempunyai rencana yang baik bagi semua bangsa dan kemurahanNya adalah untuk selama-lamanya (Maz. 106; 107; 118). Dan sejarah dunia tidak mungkin tanpa kehadiran Allah.



                                                            Facebook:  Ridho Musa
                                                            Twitter     :  Ridho Musa/putra_marthinuz
                                                             Email      :  ridho2208@gmail.com
                                                                            :  ms_ridho46@yahoo.com

Selasa, 17 Desember 2013

APA ITU PASTORAL KONSELING?

     Pastoral-Konseling adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara hamba Tuhan (pendeta, penginjil, dsb) sebagai konselor dengan konseli (klien, orang yang minta bimbingan), dimana Konselor harus membimbing dalam suasana percakapan konseling yang ideal (conductive atmosphere) sehingga Konseli mampu mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, persoalannya, kondisi hidupnya, dimana dia berada, dsb; sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan hidup itu dengan kapasitas, kekuatan dan kemampuan yang sudah diberikan Tuhan.
Bila berdasarkan definisi di atas maka ada 4 aspek yang harus dimengerti oleh seorang Konselor dalam posisinya sebagai Hamba Tuhan:


A. Hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara Konselor dengan Konselinya
        Pastoral-Konseling adalah sebuah dialogue antara pendeta dengan Konselinya, yang berhadapan sebagai dua pribadi yang utuh, dalam arti setiap pihak berhak mengekspresikan dirinya. Hubungan timbal balik ini harus merupakan suatu dialogue, karena yang pertama role (peran) seorang Konselor tidak sama dengan role seorang Pengkhotbah. Penulis mengatakan bahwa role seorang Pengkhotbah cenderung kepada role Nabi yang memberitakan firman Tuhan. Secara praktis, kedudukan itu membuat setiap perkataannya diterima sebagai firman Tuhan sendiri yang tidak bisa dibantah. Jemaat adalah penerima khotbahnya dengan kepercayaan bahwa itulah yang dibutuhkan mereka. Penulis lebih setuju bila role seorang Konselor lebih cenderung kepada Imam dengan landasan Filipi 2:5-8, sedangkan menurut saya role seorang Konselor lebih cenderung kepada orang bijaksana dengan landasan Yeremia 18 : 18; seorang Imam memiliki role yang hampir sama dengan seorang Nabi, mereka adalah mediator Allah yang memiliki otoritas tertinggi sehingga mustahil dibantah. Sedangkan orang bijaksana adalah tempat mencari hikmat ilahi, tetapi perkataan mereka tidak harus dituruti “mentah-mentah” (co: Daniel, Yusuf, dsb), tetapi Konseli dapat setuju ataupun tidak. Kedua, suasana percakapan yang ideal (conductive atmospehere) terwujud ketika Konseli merasa dihargai secara keseluruhan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Konselor dalam hubungan timbal balik:
1.      Sikap Merugikan dari Pihak Konseli
Dalam hubungan interpersonal relationship, Konselor harus menyadari adanya berbagai kemungkinan yang merugikan yang ditimbulkan oleh Konseli terhadap Konselornya. Yang pertama, simbol Allah yang melekat pada hamba Tuhan. Kedua, gejala transference dalam setiap interpersonal relationship antara dua pribadi.
2.      Dorongan yang Merugikan dari dalam Diri Konselor Sendiri
Konselor juga harus waspada akan dorongan/rangsangan yang timbul dari dirinya sendiri, yang dapat menjadi penyebab kegagalan pelayanan Konselingnya. Pertama, kebutuhan untuk melakukan counter-transference , ada 12 wujud dari hal yang ini yang merupakan sikap tidak sehat:
a.       Tidak menepati janji dan semaunya sendiri dalam memakai waktu yang tersedia
b.      Munculnya perasaan berahi atau sebaliknya, benci kepada Konseli
c.       Membiarkan sikap dan tingkah laku yang tidak seharusnya terjadi
d.      Selalu ada keinginan untuk menyenangkan Konseli
e.       Berdebat
f.       Memihak dalam konflik yang dihadapi Konseli
g.      Memberikan janji dan jaminan pada Konseli yang terlalu dini tentang kesuksesan kelanjutan pembimbingan
h.      Terbayang-bayang wajah Konseli
i.        Merasa bahwa hidup dan penyelesaian persoalan seluruhnya tergantung pada kita
j.        Sikap membedakan dari anggota yang satu dengan yang lain dalam gereja yang kita gembalakan
k.      Membuat janji pertemuan yang tidak biasa dengan Konseli dan bersikap tidak wajar
Perlu diperhatikan, counter-transference merupakan sikap yang membahayakan dalam Konseling. Hamba Tuhan harus menyadari bahwa dia bukan Psikiater ataupun Psychoanalist yang memang terlatih untuk memakainya dengan tujuan terapi, maka counter-transference tidak boleh dilakukan dengan tujuan apapun juga. Karena gejala transference dari Konseli pasti terjadi, maka itu adalah tanggung jawab Konselor.
Konselor harus mengenal benar gejala transference dan memakai role nya untuk menolong Konseli. Lalu menyadarkan Konseli tentang apa yang sedang terjadi dengan dirinya dan menyadari unsur-unsur yang tidak realistis yang mempengaruhi perasaan dan tingkah lakunya pada saat itu. Dan menolong Konseli untuk menemukan identitasnya dalam tanggung jawabnya kepada Tuhan lalu mendorongnya untuk mengambil suatu keputusan etis yang rasional. Pada akhirnya keputusan ada di tangan Konseli, role kita hanya sebagai pemberi opsi dan penuntun agar ia dapat mengambil opsi yang terbaik bagi dirinya. Hal kedua yang harus diwaspadai oleh seorang Konselor adalah menikmati simbol Allah yang ada padanya.


B.    Hamba Tuhan Sebagai Konselor
        Kita harus sepakat bahwa Pelayanan Konseling adalah bagian integral dari Pelayanan hamba Tuhan, artinya identitasnya akan tidak lengkap bila ia tidak melakukan bidang Pelayanan ini. Tapi hal ini tidak mengindikasikan bahwa setiap hamba Tuhan dapat melakukan Pelayanan ini dengan baik dan benar, mereka harus mengembangkan disiplin dan skill dalam hal tersebut.


1. Kecenderungan ke Arah Professionalisme
        Penulis mendorong setiap hamba Tuhan untuk mengembangkan dirinya dengan belajar tentang Pastoral-Konseling akan tetapi tidak setuju ketika seseorang menjadi spesialisasi dalam hal ini. Karena hubungan Konselor dengan Konseli bukanlah hubungan professional melainkan fungsional, sebab peranan dan panggilannya dalam konseling hanya bagian dari integral dari keseluruhan role dan pelayanannya sebagai hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan seharusnya mengembangkan disiplin dan kemampuan bukan untuk menjadi professional counselor tetapi hamba Tuhan yang terampil dalam pelayan Konseling, ditandai oleh:
1.  Adanya pengetahuan yang cukup tentang teori-teori personality dan psikologi pada umumnya
2.  Adanya kemampuan untuk menghubungkan teori dan praktik khususnya teori-teori tentang metode-metode dan observasi dan diagnosa
3.     Adanya training yang cukup di bawah bimbingan dan supervise seorang professional
4. Adanya kemampuan untuk memelihara identitasnya sebagai hamba Tuhan dalam peranannya sebagai Konselor dalam interpersonal relationship nya dengan Konseli
5.  Adanya kemampuan untuk mengolah dan memakai sumber-sumber yang tersedia untuk mensukseskan pelayanan Konselingnya
6.     Adanya pengertian yang benar tentang scoop pertanggung jawabannya sebagai Konselor
7.  Adanya disiplin dalam menggunakan perlengkapan-perlengkapan Konseling dalam batasan profesinya sebagai hamba Tuhan, antara lain:

a.       Penyusunan data-data dan penyimpanan catatan dalam sistem file yang rapih dan aman
b.   Membedakan dengan jelas antara short-term dan long-term Konseling, juga antara Konseling secara informal maupun pelayanan formal.
c.       Tersedianya kantor atau ruang Konseling yang tidak terganggu
d.      Tersediannya referrals yang dapat dihubungi setiap saat
e.  Tidak mencoba melakukan diagnosa medis, psycho test, eksperimen, pemberian resep obat-obatan dan hal-hal yang menjadi wewenang professional lain
f.   Tahu bagaimana menjernihkan perbedaan antara free gift dan pembayaran yang diberikan oleh Konselinya


2. Kecenderungan untuk Melakukan Pelayanan Konseling Tanpa Tanggung Jawab

Kemungkinan yang kedua penyebab kegagalan hamba Tuhan adalah kemunafikan (sikap tidak jujur terhadap diri sendiri) dan ketidaksediaan memikul tanggung jawab. Seorang hamba Tuhan seharusnya menyerahkan diri dalam kepatuhan total pada Allah Bapa-Nya dalam pelayanan-Nya.

-Pastoral Konseling adalah pelayanan Konseling yang unik karena berbeda dengan Konseling sekuler.
-Pastoral Konseling adalah pelayanan yang berat karena seluruh tugas dan tanggung jawab sebagai hamba Tuhan disatukan. Oleh karena itu, tidak heran bila banyak hamba Tuhan memilih tidak mengambil pelayanan ini, dan diekspresikan dalam sikap-sikap negatif seperti:

       I.      3. idak jujur terhadap diri sendiri.
Sikap yang merugikan ini umumnya timbul karena:
a)      Ketidaksediaan memikul beban pelayanan lebih daripada apa yang ia sukai
Seringkali hamba Tuhan dipaksa oleh keadaan untuk mengambil multiple role, karena ia harus bisa menangani seluruh kegiatan gereja, tetapi hal ini rupanya memicu timbulnya sikap yang membahayakan :

·         Menikmati rutinitas.
·         Merasa sudah berfungsi.
·         Menikmati ketergantungan (dependency) dari seluruh gereja itu padanya.Dengan sikap seperti itu hamba Tuhan umumnya akan menolak tanggung jawab dalam tugas pelayanan Konseling, karena dianggap tambahan dari pelayan lain yang lebih serius.

b)      Ketakutan pada keakraban
Setiap hamba Tuhan seharusnya memiliki interpersonal relationship yang akrab dengan setiap dombanya, karena pengalaman pribadi sebagai orang percaya merupakan unsur terpenting di dalam keberhasilan Konseling (hal yang tidak dikenal dalam Konseling sekuler). Kebutuhan ini sifatnya sangat fundamental menurut para ahli, bahkan dalam Mat 23:39 hal ini disinggung sebagai hukum yang utama. Rupanya hal ini merupakan gejala kejiwaan yang ditimbulkan dari kegagalan seseorang melewati fase penemuan identitas pribadinya pada masa remaja. Gejala ini dapat menyebabkan kegagalan yang fatal dalam pelayanan Konseling, maka dari ini ada beberapa gejala keterasingan yang harus diwaspadai.
·         Ketidakmatangan emosi (emotional immaturity)
·         Miskin dalam Kasih (lack of compassion)
·         Takut dirugikan dan dikecewakan (fear of being hurt)
·         Perasaan rendah diri (low self-esteem)
·         Perasaan bersalah yang berlebihan (guilt feeling)

Konselor biasanya sadar akan gejala-gejala di atas, tetapi untuk mengatasinya mereka membangun suatu bentuk “keakraban semu” (pseudo intimacy) sebagai gantinya. Misalnya dalam bentuk:
·         Keramahtamahan dan basa-basi
·         Ringan tangan dan ringan kaki

Gejala-gejala kejiwaan ini akan merugikan hamba Tuhan tersebut karena cenderung melakukan pelayanan Konseling seperti mesin. Padahal ini adalah suatu pelayanan dan bukan suatu pekerjaan biasa, maka perlu  menempatkan dirinya sebagai satu pribadi dalam hubungan dengan Konseli.

4. ikap menolak tanggung jawab
Hamba Tuhan yang mengerti bahwa Pastoral-Konseling adalah pelayanan yang pasti harus ia lakukan tetapi mencoba menghindar akan berkata, bahwa Konseling tidak perlu aspek Psikologi karena orang yang kenal firman Tuhan pasti dapat melayani dengan baik atau menekankan salah satu bidang yang disukainya saja. Keterpaksaan seperti itu akan  membuat Konselor memilih bentuk yang tidak sehat, seperti:

1.    Informalitas (Informality), bentuk atau model pelayanan Konseling yang popular di Indonesia. Bekerja tanpa rencana, jam kantor, formalitas, dan prosedur organisasi karena disiplin dianggap sebagai tekanan hidup. Kebanyakan alumni sekolah Teologi tidak dapat mengaplikasikan ilmu yang telah mereka pelajari karena ekspresi system kehidupan yang tidak cocok dengan tuntutan disiplin tiap bidang studi. Perlunya satu kesadaran bahwa ilmu itu hanya dapat diterapkan dengan suatu disiplin kerja dan tanggung jawab yang lebih besar. Pelayanan Konseling tanpa disiplin ditandai:
     Ø  Hastiness (Mau cepat selesai)
     Ø  Diagnosa dan analisa yang berdasarkan intuisi semata-mata
     Ø  Menjadi ilah bagi Konselinya

2. Membuat dirinya selalu mau dipakai (Availabity), hal ini seharusnya menjadi hal yang positif dan menguntungkan pelayanan Konselinya. Tetapi bentuk ini seringkali dijadikan sebagai alasan untuk menolak.

a. Percakapan Obrolan, kunjungan adalah salah satu bentuk tradisional yang sangat penting untuk membangun hubungan baik dan membuka kesempatan Konseling. Tetapi kesempatan ini banyak disalah gunakan untuk kebutuhan pribadinya diluar makna penggembalaan.
b. Rangsangan atas kebutuhan neurotic si Konseli, kecenderungan narcisstic adalah availabity dalam pelayanan Konseling pada jemaatnya. Hamba Tuhan sengaja menciptakan suasana mutual manipulation (saling manipulasi) dengan Konseli. Berikut sikap Konseli yang mau memanipulasi Konselornya:
        i.      Orang yang datang untuk menjebak atau menjatuhkan
        ii.      Datang untuk memonopoli Konselor bagi kepentingannya sendiri
        iii.      Orang yang datang pada Konselor tapi tanpa kebutuhan akan nasihatnya
        iv.      Orang yang memang senang mempermainkan dan mempersulit Konselor


C.    Suasana Percakapan Konseling yang Ideal
Perbedaan kita dengan Konselor Sekuler adalah pelayanan ini dapat disebut berhasil bila Konseli punya kemauan, tekadm dan keberanian untuk mencapai kepenuhan hidup Kristen. Tujuan utama Pastoral-Konseling adalah kehidupan yang berkelimpahan dalam Yesus Kristus atau menjadi manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah. Ada 5 unsur untuk mencapai tujuan tersebut, yang disebut urutan sequential:
a)      Kemauan, tekad dan keberanian Konseli untuk mencapai tujuan kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan yang berkelimpahan dalam Kristus
b)      Bimbingan yang tepat dari Konselor
c)      Diagnosa dan  analisa yang tepat pada pokok persoalannya
d)     Keterbukaan dan kebebasan untuk mengekspresikan perasaan dan persoalannya
e)      Suasana percakapan Konseling yang ideal
Sikap paling penting untuk menciptakan suasana percakapan yang ideal adalah Understanding yaitu sikap penuh pengertian dari pihak Konselor.


Apakah yang Dimaksudkan dengan Understanding?
            Menurut Wayne Oates hal ini berarti sikap positif dan terencana dari Konselor yang diekspresikan melalui pemberian kesempatan seluas-luasnya pada Konseli untuk mengekspresikannya dirinya secara tepat. Dimana Konselor harus mengosongkan diri, lahir dari rasa belas kasihan yang mendalam. Tetapi tidak boleh mengorbankan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan dan membenarkan dosa-dosa Konseli, melainkan menanti saat yang tepat untuk mengkonfrontir Konseli dengan kebenaran firman Tuhan. Oleh karena itu, Understanding dan Confrontation merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan dan secara terus menerus bekerja sama selama proses Konseling.

Bagaimana Cara Mempraktikan Understanding?

     1.      Empathy
Yaitu sikap positif Konselor terhadap Konseli yang diekspresikan melalui kesediaanya untuk menempatkan diri pada tempat Konseli, merasakan apa yang dirasakan Konseli, dan mengerti dengan pengertian Konseli. Empati bukanlah hal yang mudah sekalipun sudah mengikuti training, tetapi harus keluar dari belas kasihan yang diekspresikan dalam kerinduan menyelami dan mengerti Konseli. Ada tiga kecenderungan yang menghambat empati:
·  Pikiran terikat pada teori dan teknik Konseling yang akan dipakai
·  Terlalu cepat memikirkan pemecahan persoalan Konseli
· Kecemasan yang mematikan kepekaan terhadap perasaannya sendiri maupun perasaan Konseli

     2.      Acceptance
Yaitu kesediaan Konselor menerima keberadaan Konselinya sebagaimana adanya. Sikap positif yang terencana yang sengaja dikembangkan dan dipraktikan oleh karena sebagai Konselor sadar bahwa mungkin hanya melalui cara ini untuk menemukan inti persoalan. Maka Konselor harus menyadari:
· Setiap Konseli datang kepadanya setelah merasa betul-betul terganggu dengan persoalan hidupnya.
·  Setiap pengalaman masuk ke dalam alam bawah sadar oleh karena mekanisme pertahanan yang bentuknya menekan untuk coba melupakan.
· Setiap orang memiliki subjektivitas (empiris) dalam menilai sumber-sumber kecemasan dan hal-hal apa yang mempengaruhi perasaannya.
· Perasaan aman inilah yang harus sengaja diciptakan Konselor dalam diri Konseli melalui acceptance yang sejati.
Hal ini memberi peluang kepada Konselor untuk mendorong Konseli melakukan tindakan dan langkah-langkah konkret tanpa menunggu sampai inti persoalannya ditemukan. Faktanya sebagian besar dari Konseli dengan  sendirinya  mampu menghadapi realita kehidupan, mengambil keputusan, dan memikul tanggung jawab bahkan melakukan tindakan konkret setelah menemukan kepercayaan diri melalui percakapan dengan Konselor yang mempraktikan acceptance sejati.

      3.      Listening
Yaitu unsur utama dari understanding, sebagai syarat utama untuk Konselor tidak mungkin dimiliki oleh hamba Tuhan yang punya kecenderungan narcissistic. Listening bukanlah sekedar teknik Konseling yang perlu dipelajari dan dilatih, karena harus itu Konselor harus mengenal dengan benar-benar bahwa:
a. Kemampuan dan teknik Konseling yang sengaja dipakai oleh Konselor oleh karena kesadaran bahwa mungkin hanya melalui cara ini Konseli mendapat kesempatan mengekspresikan apa yang seharusnya ia ekspresikan.
b.      Tidak sama dengan sikap berdiam diri selama Konseli berbicara (tanpa mendengarkan kelanjutan ceritanya) memikirkan advis apa yang akan diberikan
c.       Pemakaian sensitivitas yang tinggi secara disiplin dengan maksud menangkap baik kata-kata yang diucapkan Konseli maupun perasaan di balik kata-kata, ekspresi wajah dan tingkah
a.       Kesadaran dan sensitivitas terhadap sikapnya sendiri sebagai Konselor selama listening berlaku
b.      Kemampuan untuk menangkap inti kata-kata yang diucapkan Konseli secara objektif
c.       Kemampuan menahan diri dari dorongan untuk berkata-kata lebih banyak pada Konseli atau memberikan kata-kata sebelum waktunya.

Responding secara efektif adalah sikap yang sangat penting dari Konselor yang seharusnya tidak merusak bahkan ikut menciptakan suasana percakapan Konseling yang kondusif. Bagaimana responding dapat menciptakan kondusif atmosfer?
.       Warmth (kehangatan)
.      Support (dukungan)
.       Genuineness (kemurnian sikap konselor)\
     a.       Persiapan yang matang untuk setiap session
      b.      Sambutan yang hangat dari Konselor terhadap Konseli
      c.       Tahu menyimpan rahasia jabatan
      d.  Dirasakan oleh Konseli bahwa Konselor betul-betul hadir dalam setiap pergumulan
.      Menstimulir (Stimulating)


D.    Mencapai Tujuan Hidupnya dalam Tanggung Jawab pada Tuhan
Pelayanan Konseling seorang hamba Tuhan tidak berakhir dengan si Konseli merasa persoalannya sudah selesai dan teratasi. Memang secara formal Konseling boleh berakhir tetapi sebenarnya dalam konteks penggembalaan hubungan Konselor dan Konseli itu tidak pernah berakhir

Melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya kepada Tuhan
1.      Melihat tujuan hidupnya secara Kristen
2.  Melihat Alkitab sebagai standar kebenaran yang mutlak untuk menilai tingkah laku dan kebutuhannya
3.     Memakai sarana jalan yang sesuai dengan iman Kristen dalam mencapai tujuan yang benar itu
4.      Melihat tujuan hidupnya secara realistis
5.      Mencapai tujuan hidupnya yang dicita-citakan dengan takaran dan kekuatannya sendiri.

                                                                                                                
   
                                                                  Facebook : Ms Ridho
                                                                                    Ridho Putra Mathinuz
                                                                 Email         : ridho2208@gmail.com , atau
                                                                                   ms_ridho46@yahoo.com

  
    Selamat Belajar... :)